Minggu, 10 Oktober 2010

Mengenang SMA Kelas X (part 2)

“Mang, Boleh Turun di Fly Over Gak?”

Hari itu (lupa lagi tanggalnya), seperti biasa saya dan teman-teman pulang sekolah. Kami menunggu angkot (angkutan kota) berwarna biru dengan garis kuning. Membutuhkan waktu yang cukup lama hingga angkot berwarna biru dengan garis kuning itu datang. Kemudian Raudhah, saya, Dewi, Meta, dan Anisa menaiki angkot itu satu persatu. Sedari dulu hingga sekarang, posisi tempat duduk yang akan kita tempati selalu sama. Raudhah (biasanya) di pojok dekat jendela sebelah kanan, saya di depan Raudhah, Dewi di samping saya, Meta dan Anisa di samping Raudhah.
Seperti biasa, kita selalu bercanda ria hingga tertawa-tawa di dalam angkot (biasanya kita selalu menunggu angkot yang kosong dan kala itu angkotnya kosong hmm terkecuali supir angkot yang mengendarai angkot ini). Selalu, tidak pernah berubah hingga saat ini juga kita pasti akan bercanda ria hingga tertawa-tawa. Kemudian Meta dan Anisa turun duluan dari angkot.
Tinggallah saya, Raudhah, dan Dewi. Angkotpun berhenti dan mengangkut sekitar 3 orang. Kita mulai mengurangi bercandanya karena kita takut mengganggu kenyamanan 3 orang itu. Bagaimanapun juga, kita sadari angkot adalah angkutan umum. Lagi pula, entah mengapa kita semua terdiam ketika 3 orang itu masuk (mungkin karena sudah capek ketawa mulu semenjak di sekolah sampai Meta dan Anisa turun).
Lalu, 3 orang itu turun. Semua tetap sepi, diantara saya, Raudhah, dan Dewi tidak ada yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan. Angkot terus meluncur dan berhenti karena lampu merah menyala. Setelah lampu berganti dengan hijau, angkot melaju dengan santainya. Awalnya santai, namun makin lama semakin cepat laju angkotnya.
Angkot berwarna biru dengan garis kuning itu memilih jalur yang melewati fly over, dan Dewi seharusnya turun sebelum fly over itu. Karena ketika angkot telah menaiki fly over tidak akan menurunkan satu orang penumpang pun selama berada di fly over. Dewi yang baru sadar bahwa ia harus turun dari angkot itu kemudian berkata ‘Kiri’ dengan suara yang pelan. Sayangnya suara Dewi tenggelam oleh ributnya mesin kendaraan. Raudhah dan saya terdiam karena speechless. Anehnya, Dewi yang seharusnya meneriaki supir angkot dengan berkata ‘KIRIIIIIII!!’ malah tertawa sembari berkata ‘Kiri… kiri… kiri…”. Angkotnya tidak berhenti juga, hingga menaiki fly over. Saya, Raudhah, dan Dewi saling melirik satu sama lain dan kemudian tertawa terpingkal-pingkal (sejujurnya, saya tertawa karena melihat ekspresi Dewi yang bingung tetapi ia tertawa). Alhasil, sepanjang fly over itu kita tertawa riang. LOL.
Setelah melewati fly over Dewi akhirnya berhasil turun dari angkot. Namun sembari membayar jasa supir angkot Dewi berkata ‘Mang, boleh turun di fly over gak?’ sembari menahan tawa. Mang angkot itu hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Dewi tanpa menjawabnya. Saya dan Raudhah spontan tertawa lagi dengan pertanyaan Dewi tersebut. Bukankah jawabannya sudah jelas ‘tidak boleh’ dan Dewi tau akan hal itu. Kemudian Dewi tertawa sembari melambaikan tangannya kepada saya dan Raudhah yang masih ada di dalam angkot.
Ya, Dewi memang sedikit jail dan unik. Tapi sungguh, tanpa ada Dewi tidak akan ada kenangan yang berarti selama saya bersekolah di SMA Istiqamah. Tanpa ada Dewi saya tidak akan pernah berubah menjadi lebih berani dari yang sebelumnya sangat pemalu. Akhirnya saya mengucapkan TERIMA KASIH kepada ALLAH SWT yang telah mengirimkan Dewi untuk menjadi bagian dari sahabat saya :)

3 komentar:

  1. oh iya Dewi prnah kya gitu???
    hahahaha parah ii, nanya ke si mangnya juga??
    hahahahahaa Dewi parraaaaaaaaahhh :))))

    BalasHapus
  2. aduh kupat nih.................................

    BalasHapus