Selasa, 26 Oktober 2010

Pasar Seni ITB 10-10-10

Yap yap yap, semua warga Bandung tau pada tanggal 10 bulan 10 tahun 2010 ada acara Pasar Seni ITB yang diadakan oleh ITB tentunya. Well, di sana ada sekitar 200 stand jual produk.
Dari hasil penelusuran saya (yang tidak semua hasil penelusuran saya foto) didapatkanlah ini :






inilah ranting-ranting yang disusun dengan sangat rapih dan penuh ketelitian ketika menyambut kedatangan kita melalui jalan Ganesha.


trus ini ada foto-foto gitu, yang paling saya suka foto anak-anak itu.






ini adalah sesuatu hal yang sangat jarang saya temui ; pelukisnya nge-cat secara 'live'.
ini adalah peta tata letak pasar seni ITB, jadi bagi yang ingin mengetahui tempat stand-stand dan wahana-wahana bisa melihat pada peta ini.
ini patung (ya iyalah) dipahat dengan ukiran yang mendetail dan terasa 'hidup'.

nah ini gambar wayang, jadi ada seperti baling-baling berbentuk lingkaran raksasa itu yang didalamnya terdapat wayang-wayang. ada yang tahu ini tokoh wayang apa??

ini juga salah seorang pelukis yang sedang mengadakan pertunjukan 'live'. Gila bangetlah! keren sumpah!! cuman set-set-set aja udah jadi seperti itu lukisannya. Two thumb up!!

setelah jalan-jalan, ternyata saya bertemu dengan sisingaan atau barong-barongan? ya pokoknya seperti inilah, kebayang ya udah mah panas, berat, haus, aaaaakkkh tidaaakk!! keren deh ini yang ada di dalamnya :)

ini judulnya 'ayat-ayat alam' maksudnya ukiran berbentuk sesuatu dari pohon. Nah, ini adalah bentuk yang paling saya sukai. kenapa? lihat deh senyuman kakeknya tampak bernyawa begitu juga dengan neneknya. lalu urat-urat si kakek juga sangat detail dipahatnya. jadi menurut saya ini adalah karya yang memukau.

tulisan bdg (dibaca : bandung) ini terdapat di dekat pasar psikopat.

oh ya, pasar psikopat adalah spot yang paling saya sukai, karena di sana menyindir pemerintah dan kehidupan sosialnya abis-abisan. ada yang sertifikat langsung jadi, korban ledakan gas, trus jual bayi dan lain-lain.
Sebenernya masih banyak yang dapat diceritakan dari pasar seni itb ini, hanya saja sulit untuk ditulis dengan kata-kata (alaaahh -_-). Sayangnya, pasar seni itb hanya diadakan 4 tahun sekali, dan pada saat itu juga hanya sekitar 10 jam (kuraaaaannngg!!). oh ya, di sana juga banyak wahana-wahana yang tidak sempat saya kunjungi karena ngantrinya minta ampun.

Akhir kata, saya menantikan pasar seni itb pada tahun 4 tahun mendatang.

Jumat, 15 Oktober 2010

Gaya 'Thumb Up' Nick Jonas

Hampir semua cewe di dunia tau siapa itu Nick Jonas. Kalo ada yang lupa lagi, tenang! Biar saya yang ingetin. Nama lengkapnya Nicholas Jerry Jonas, lahir tanggal 16 September 1992, anggota band Jonas Brothers dan punya side project band Nick Jonas and The Administration. Oke oke, udah inget kan?? Tapi-tapi, inget gak kalo Nick Jonas itu punya gaya khas setiap tiba-tiba difoto sama paparazzi.
Yap, artis-artis Hollywood selalu menjadi sasaran paparazzi. Mereka juga mempunyai gaya khas ketika difoto. Seperti misalnya Miley Cyrus dengan gaya ‘peace’, Demi Lovato dengan gaya ‘senyum lebarnya’ daaaan tidak ketinggalan Nick Jonas dengan gaya ‘thumb up’. Berikut adalah beberapa foto Nick Jonas dengan gaya ‘thumb up’-nya.

Mungkin gaya ini bagi setiap orang adalah gaya yang biasa, tapi menurut saya gaya ini menjadi gaya yang tidak biasa bila dilakoni oleh Nick Jonas. Karena Nick Jonas jarang sekali tersenyum sembari giginya terlihat. Ya, senyuman manisnya itu sangat menunjang penampilannya ketika sedang ber’thumb up’. So handsome! :D

Kamis, 14 Oktober 2010

Puisi

KINI DAN NANTI

Selalu, entah itu kini dan nanti
Aku berusaha menerjemahkan arti yang tersirat dari lubuk hatiku
Berusaha sebaik mungkin kala aku bertingkah
Berusaha mengerti betapa susahnya menghilangkan bayangan wajahnya
Berusaha memaafkan diriku kala aku tidak berani menatap matanya

Entah itu kini dan nanti
Aku menangis tatkala hatiku berdetak
Aku tertawa tatkala hatiku berdegup
Aku terima tatkala ini yang dinamakan cinta

Kini dan nanti
Aku baru sadar bahwa hanya dirinya yang menguasai pikiranku

Kini dan nanti
Aku yakin dirinya yang menyusup ke dalam jiwa dan hati ini
Mendobrak kegelisahan
Menghancurkan ketenangan
Mengindahakan mimpi-mimpiku

Kini dan nanti
Aku akan berlari menempuh perjalanan gersang
Dan akan aku nikmati keindahan juga kasih sayangnya
Tatkala aku dan dirinya akan terus bersama entah itu kini dan nanti




Pesan : puisi ini saya buat waktu duluuuuuuuuuuuuuuuuu sekaliiiiiii

Puisi

KETAHUILAH KAWAN
Oleh : Jihan untuk Talitha dan Trisela

Seandainya aku bisa terbang
Akan aku kirimkan langsung sajak ini untukmu kawan
Seandainya aku dapat menempuh perjalanan menuju tempatmu
Akan aku lakukan hanya untuk dirimu kawan

Ketahuilah kawan
Betapa gembiranya hati ini saat kita bercanda dan tertawa
Ketahuilah kawan
Betapa sakitnya hati ini saat kita bersedih dan menangis
Ketahuilah kawan
Betapa rindu menguasai hati ini saat engkau menjauh

Meski jauh terbentang jarak di antara kita
Tapi ketahuilah kawan
Kita adalah seorang sahabat yang tidak pernah lelah
Ya, kita tidak pernah lelah untuk memanjatkan doa kepada-Nya
Agar suatu saat kita dipertemukan

Dengan kasih yang tulus
Dengan hati yang ikhlas
Ketahuilah kawan
Sungguh, sajak ini aku tulis untukmu

Minggu, 10 Oktober 2010

Mengenang SMA Kelas X (part 2)

“Mang, Boleh Turun di Fly Over Gak?”

Hari itu (lupa lagi tanggalnya), seperti biasa saya dan teman-teman pulang sekolah. Kami menunggu angkot (angkutan kota) berwarna biru dengan garis kuning. Membutuhkan waktu yang cukup lama hingga angkot berwarna biru dengan garis kuning itu datang. Kemudian Raudhah, saya, Dewi, Meta, dan Anisa menaiki angkot itu satu persatu. Sedari dulu hingga sekarang, posisi tempat duduk yang akan kita tempati selalu sama. Raudhah (biasanya) di pojok dekat jendela sebelah kanan, saya di depan Raudhah, Dewi di samping saya, Meta dan Anisa di samping Raudhah.
Seperti biasa, kita selalu bercanda ria hingga tertawa-tawa di dalam angkot (biasanya kita selalu menunggu angkot yang kosong dan kala itu angkotnya kosong hmm terkecuali supir angkot yang mengendarai angkot ini). Selalu, tidak pernah berubah hingga saat ini juga kita pasti akan bercanda ria hingga tertawa-tawa. Kemudian Meta dan Anisa turun duluan dari angkot.
Tinggallah saya, Raudhah, dan Dewi. Angkotpun berhenti dan mengangkut sekitar 3 orang. Kita mulai mengurangi bercandanya karena kita takut mengganggu kenyamanan 3 orang itu. Bagaimanapun juga, kita sadari angkot adalah angkutan umum. Lagi pula, entah mengapa kita semua terdiam ketika 3 orang itu masuk (mungkin karena sudah capek ketawa mulu semenjak di sekolah sampai Meta dan Anisa turun).
Lalu, 3 orang itu turun. Semua tetap sepi, diantara saya, Raudhah, dan Dewi tidak ada yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan. Angkot terus meluncur dan berhenti karena lampu merah menyala. Setelah lampu berganti dengan hijau, angkot melaju dengan santainya. Awalnya santai, namun makin lama semakin cepat laju angkotnya.
Angkot berwarna biru dengan garis kuning itu memilih jalur yang melewati fly over, dan Dewi seharusnya turun sebelum fly over itu. Karena ketika angkot telah menaiki fly over tidak akan menurunkan satu orang penumpang pun selama berada di fly over. Dewi yang baru sadar bahwa ia harus turun dari angkot itu kemudian berkata ‘Kiri’ dengan suara yang pelan. Sayangnya suara Dewi tenggelam oleh ributnya mesin kendaraan. Raudhah dan saya terdiam karena speechless. Anehnya, Dewi yang seharusnya meneriaki supir angkot dengan berkata ‘KIRIIIIIII!!’ malah tertawa sembari berkata ‘Kiri… kiri… kiri…”. Angkotnya tidak berhenti juga, hingga menaiki fly over. Saya, Raudhah, dan Dewi saling melirik satu sama lain dan kemudian tertawa terpingkal-pingkal (sejujurnya, saya tertawa karena melihat ekspresi Dewi yang bingung tetapi ia tertawa). Alhasil, sepanjang fly over itu kita tertawa riang. LOL.
Setelah melewati fly over Dewi akhirnya berhasil turun dari angkot. Namun sembari membayar jasa supir angkot Dewi berkata ‘Mang, boleh turun di fly over gak?’ sembari menahan tawa. Mang angkot itu hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Dewi tanpa menjawabnya. Saya dan Raudhah spontan tertawa lagi dengan pertanyaan Dewi tersebut. Bukankah jawabannya sudah jelas ‘tidak boleh’ dan Dewi tau akan hal itu. Kemudian Dewi tertawa sembari melambaikan tangannya kepada saya dan Raudhah yang masih ada di dalam angkot.
Ya, Dewi memang sedikit jail dan unik. Tapi sungguh, tanpa ada Dewi tidak akan ada kenangan yang berarti selama saya bersekolah di SMA Istiqamah. Tanpa ada Dewi saya tidak akan pernah berubah menjadi lebih berani dari yang sebelumnya sangat pemalu. Akhirnya saya mengucapkan TERIMA KASIH kepada ALLAH SWT yang telah mengirimkan Dewi untuk menjadi bagian dari sahabat saya :)

Selasa, 05 Oktober 2010

KULUKIS SENJA

Kini gadis berusia 16 tahun itu duduk termenung sendirian. Angin mengipaskan rambutnya yang panjang dan hitam. Ia sendirian, tidak ada yang menemani. Kemudian orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang memenuhi janjinya. Gadis itu menatap mata orang yang sangat ia sayangi, lalu ia tersenyum manis.
***
“Aku mau melihat senja…” Celoteh seorang anak yang berusia 5 tahun.

“Tidak sekarang sayang, hari hujan”

“Biarkan saja, bukankah lebih asyik sambil hujan-hujanan?! Lagipula aku ingin menunggu ayah…” Kini anak itu meruncingkan bibirnya.

“Nanti kalau kamu sakit bagaimana?”

“Tidak apa, kalau aku sakit kan masih bisa lihat senja?” Anak itu mulai merengek.

“Tidak sayang…”

“Ayolah bunda…” Anak itu mengeluarkan jurus ampuhnya untuk merayu bunda (tersenyum sangat manis).

“Baiklah, tapi di teras saja ya dan tidak hujan-hujanan” Akhirnya bunda berhasil di rayu.

“Makasih bunda…” Anak itu memeluk bunda tersayangnya.

***
“Ka-sian gak punya ayaaaaah… ka-sian gak punya ayaaaaah…!!” Terdengar suara yang bernada mengejek dari kelas 3-1 SD An-Ni’mah.

“Ayahku setiap pulang kerja pasti bawa es krim. Kasian ya yang gak punya ayah. Hahahaha…” Ucap seorang anak perempuan yang berambut pendek.

“Kalau tamasya ke gunung, aku suka digendong sama ayah. Ibuku mana kuat menggendongku. Hahahaha…” Kali ini suara anak laki-laki bertubuh tambun.

Sedangkan dari arah meja depan, seorang gadis berambut panjang dan berwarna hitam menutupi matanya yang basah karena air mata. Tidak hanya itu, lambungnya pun terasa seperti menusuk-nusuk namun tidak ia beritahukan hal ini pada bundanya.

***
“Fahira, makan dulu…” Suara lembut itu memanggil anaknya yang berusia 9 tahun.

“Gaaaak, Fahira mau langsung tidur aja…” Jawab gadis kecil dari dalam kamarnya.

“Jangan gitu dong, bunda sudah masak tempe bacem kesukaan kamu…” Suara itu masih bernada lembut dan menenangkan.

“Iya bunda, nanti…” Fahira menyahut dengan nada penuh kekesalan.

Bunda sangat mengerti akan tingkah laku anak semata wayangnya. Bagaimana tidak, selama 4 tahun terakhir ia selalu berdua dengan gadis kecilnya itu. Tidak seperti biasanya Fahira bertingkah seperti ini. Atas inisiatif seorang ibu, bunda melangkahkan kakinya menuju kamar Fahira. Ia membuka pelan pintu kamar anaknya itu, dan didapatinya Fahira tengah meringkuk di atas kasur dengan memegang perutnya.

“Fahira kamu kenapa nak?” Suara bunda tetap lembut.

“Bunda kenapa masuk kamar aku? Aku kan lagi ingin sendiri!!”

“Kamu kenapa sayang? Perutmu sakit? Bagian mananya? Sini bunda periksa, seperti apa sakitnya? Kenapa kamu menangis Fahira??”

“Bunda, gak usah tau! Aku gak mau buat bunda repot! Aku udah bisa sendiri!!” Suara Fahira meninggi dan tetap menahan rasa sakit.

“Fahira!! Sejak kapan kamu berani berbicara dengan nada tinggi kepada bunda?!” Tidak ada lagi nada kelembutan itu, kini telah diganti dengan nada penuh kecemasan dan kekesalan.

Melihat bundanya yang sudah marah, Fahira terdiam. Kemudian anak gadis berusia 9 tahun itu menangis dengan masih memegang perutnya. Sadar akan kesalahannya, bunda langsung memeluk Fahira. Ibu dan anak itu bisu akan keharuan.

Setelah semuanya tenang, Fahira mulai menceritakan masalahnya. Semua masalah yang ia pendam selama ini. Semua kekesalan yang ia tekan selama ini. Semua perasaan sakit pada lambungnya yang sering kali ia rasakan. Semua kasih sayang yang belum sepenuhnya ia curahkan pada bundanya.

Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, bunda mengerti akan tekanan batin yang dialami oleh gadis kecilnya ini. Tanpa perlu panjang lebar Fahira menjelaskan, bunda sudah sangat mengerti semuanya. Kini Fahira tenggelam dalam dekapan kasih sayang bunda. Sedangkan bunda, mengingat kembali tragedi yang sempat mengguncang jiwa anaknya. Ya, saat senja itu.

***
Saat senja itu, hujan turun. Dari sebuah rumah yang penuh keharmonisan, keluarlah seorang ibu dengan gadis kecilnya yang masih berusia 5 tahun. Dibalut dengan sweater hijau rajutan ibunya, anak kecil itu duduk manis sembari menatap senja yang saat itu berwarna orange keemasan. Sungguh indah. Matanya yang besar tidak berhenti menatap awan yang luar biasa menakjubkan.

Hujan sudah berhenti. Anak kecil berusia 5 tahun ini masih terus menatap senja. Seakan ada sesuatu yang akan senja berikan, ia masih setia menatap senja. Hingga senja yang orange keemasan berganti warna menjadi biru dongker atau bahkan hitam. Saat itulah, ayahnya akan pulang.

Suara derum mobil terdengar dari arah luar. Gadis kecil mengira itu adalah suara mobil ayahnya. Namun ternyata, mobil itu tetap melaju walaupun telah melewati rumahnya. Bukan, itu bukan mobil ayahnya. 3 menit berlalu. Lagi-lagi terdengar suara derum mobil, dan gadis berusia 5 tahun berharap bahwa itu adalah mobil ayahnya. Namun sayang, mobil itu adalah mobil tetangganya.

Satu jam telah ia lewati dan masih setia menunggu ayahnya. Bunda pun masih menemani gadis kecilnya menuggu kehadiran ayah. Entah mengapa degupan jantung bunda tidak seperti biasanya. Bunda sempat cemas dan sangat mengkhawatirkan ayah, namun cepat-cepat ia tepiskan perasaan cemasnya.

Tunggu sebentar lagi, ayah pasti datang. Ah, mungkin ayah sedang membeli makan malam untuk bunda dan Fahira. Batin bunda dalam hati untuk menenangkan dirinya.

Terdengar suara derum mobil menuju rumah gadis kecil dan bundanya. Mobil itu berhenti di depan pagar. Oh, sungguh senang Fahira mengira ayahnya telah datang. Namun tidak dengan bunda, degupan jantung itu tidak juga berhenti. Mereka berdua berjalan menuju pagar rumah dan mulai membukakan pagar. Degupan jantung bunda semakin kencang berlari.

Tidak, itu bukan mobil ayah. Tapi, siapa orang yang menyetir mobil itu? Orang itu berbicara dengan bunda. Ke mana ayah? Apa ayah lembur?. Fahira banyak bertanya dalam hatinya.

Setelah berbicara dengan orang itu, bunda langsung menggendong Fahira. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa. Fahira betul-betul tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi? Oh, akankah senja keesokan harinya tetap menyenangkan?
Mobil itu meluncur dengan cepat. Bahkan hampir saja menabrak sepeda motor. Mobil itu tetap meluncur. Menepis kesunyian malam. Fahira menatap bunda. Dari kegelapan, Fahira tahu bahwa bunda menangis. Mobil akhirnya berhenti. Fahira yang masih digendong oleh bunda keluar dari mobil dan matanya terbelalak kala membaca tulisan di atas gedung putih. RUMAH SAKIT. Dengan cepat bunda berlari sembari masih menggendong Fahira. Fahira dapat merasakan degupan jantung bunda yang juga ikut berlari.

Mereka hampir sampai pada tempat tujuan. Fahira menatap banyak sekali saudara-saudaranya yang datang dan mereka semua menangis. Fahira kemudian dititipkan pada tantenya, adik ayah Fahira. Tantenya juga ikut menangis hingga matanya bengkak. Fahira yang biasanya cerewet, akhirnya hanya bisa terdiam membisu. Matanya kemudian membaca tulisan yang tertera pada sebuah pintu. KAMAR MAYAT.

***

Gadis itu kini tumbuh berusia 14 tahun. Ia tumbuh dengan kasih sayang bundanya. Ia tidak pernah merasa kehilangan kasih sayang walaupun ayahnya telah tiada karena kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa ayahnya dalam hitungan detik. Meskipun begitu, setiap malam gadis itu selalu berdoa kepada Allah SWT agar ayahnya ditempatkan bersama dengan orang-orang yang beriman.

Fahira tetap tegar akan kesedihannya. Bunda selalu ada untuk Fahira. Begitupun sebaliknya, Fahira selalu ada untuk bunda. Bunda yang berprofesi sebagai seorang pelukis lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Nama bunda semakin terkenal karena lukisannya yang berjudul ‘kabut malam’. Lukisan itu menceritakan kegelisahan bunda kala ayah meninggal.

Sedangkan Fahira kini lebih sering membuat puisi dan juga cerpen. Ia aktif di banyak organisasi. Mulai dari OSIS, Paskibraka, mading, hingga teater. Ia memang sengaja menyibukkan dirinya. Agar kenangan akan ayahnya tidak selalu mengikat kesedihan.

***

Di bawah langit yang senja, kini gadis berusia 16 tahun itu duduk termenung sendirian. Angin mengipaskan rambutnya yang panjang dan hitam. Ia sendirian tidak ada yang menemani. Kemudian orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang memenuhi janji untuk mentraktirnya. Gadis itu menatap mata orang yang sangat ia sayangi, lalu ia tersenyum manis.

“Bagaimana dengan peluncuran lukisan terbaru punya bunda? Sukses? Banyak yang tertarik tidak?” Tanya Fahira kepada bundanya.

“Ya, seperti yang dapat kamu lihat dari raut muka bunda…” Bunda tersenyum manis kemudian mengambil tempat di samping anak gadisnya. Mereka berdua terdiam. Sunyi. Keadaan di sekitar taman sangat menyejukkan. Apalagi saat senja.

“Tidak terasa ya bunda” Akhirnya Fahira angkat bicara. Bunda hanya terdiam karena mengerti ke mana arah pembicaraan Fahira.

“Waktu itu senja seperti ini juga…” Fahira menggantungkan kalimatnya.

“Sudah. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Itu semua takdir Yang Maha Kuasa” Bunda menyela ucapan Fahira. Mereka berdua tersenyum. Lalu Fahira menundukkan kepalanya.

Kesunyian menguasai keadaan di sekitar taman.

“Ah, senjanya masih panjang kan? Akan bunda lukis senja untuk anak gadis bunda yang cantik ini” Bunda mengedipkan mata ke arah Fahira.

“Ah, bunda nih mujinya berlebihan…” Pipi Fahira merah merona akan ucapan bundanya. Hingga tampaklah betul rona wajahnya yang begitu jelita.

Sungguh anakku, akan kulukis senja untukmu dan juga ayahmu.

Mengenang SMA kelas X (part 1)

Dewi dan Kak Surya

Kalo ngomongin hal yang begitu diingat ketika kelas X di SMA adalah kejadian yang dialami oleh teman saya Dewi (bukan nama sebenarnya) dan kakak kelas Kak Surya (bukan nama sebenarnya). Saat istirahat, seorang kakak kelas perempuan saya Teh Wulan (bukan nama sebenarnya) menghampiri saya dan memberikan jadwal kultum (kuliah tujuh menit). Saya menerima kertas jadwal itu dengan penuh rasa deg-degan. Ouh, bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya, bagi diri saya yang kala itu amat sangat pemalu harus tampil di depan umum dan memberikan materi kultum dihadapan semua siswa.
Ketika itu saya langsung memberitahukan mengenai jadwal itu kepada teman-teman saya yang lainnya. Sebenarnya saya lupa siapa yang pertama kali tampil untuk memberikan materi kultum. Namun hal yang begitu saya ingat adalah ketika giliran Dewi untuk memberikan materi kultum. Ya, saya begitu antusias ingin melihat Dewi ‘berceramah’.
Selesai sholat dzuhur yang dilanjutkan sholat sunnah 2 rakaat, saya dan teman-teman tengah siap untuk duduk manis mendengarkan materi kultum yang kala itu adalah giliran Dewi. Dengan santainya Dewi berjalan menuju mimbar. Sebetulnya dulu Dewi memang terkenal tomboy.
“Assalammualaikum wr wb” Ucap Dewi memulai kuliah tujuh menitnya.
Semua yang hadir di mushola itu kompak menjawab “Waalaikumsalam wr wb”
Namun salah seorang kakak kelas yaitu Kak Surya menjawab salam dengan nada yang terkesan cuek (dan memang pada kenyataannya begitulah gaya bicara ia). Tetapi di luar dugaan, Dewi terdiam sebentar, lalu kemudian berkata
“Maaf bisa diulangi menjawab salamnya? Saya harap menjawab salamnya tidak main-main”
Spontan seluruh yang hadir di mushola itu (termasuk saya) kaget akan ucapan Dewi barusan. Wow, gila! Murid baru sudah berani untuk mengoreksi kakak kelasnya. Ternyata tidak hanya saya saja yang terkejut. Teman-teman kakak kelas Kak Suryapun terkejut sehingga mereka tertawa terbahak-bahak.
Dari kejadian itulah ‘perserteruan’ tidak serius terjadi antara Dewi dan Kak Surya. Bahkan tidak hanya antara mereka berdua saja, saya juga teman-teman lainnyapun terkena imbasnya. Tetapi sungguh ‘perserteruan’ tersebut sangat indah untuk dikenang. Karena memang ‘perseteruan’ itu bagi saya, Dewi, dan teman-teman lainnya sebagai salah satu alternatif bagi kami untuk bisa lebih akrab dengan kakak kelas laki-laki semuanya.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Air Mata (puisi)

Air Mata

Dengarkanlah senandung kehidupan ini

Begitu banyak gemuruh hati yang akan menangis

Tapi kali ini tangisan itu terdengar berbeda


Perhatikanlah emosi jiwa alam ini

Maknai arti setiap tetesan tangisan itu

Dapatkah engkau menebaknya wahai langit?


Untukmu yang penuh arti bagi kehidupanku

Ketahuilah bahwa air mata ini untukmu


Dengarkanlah kalimat perasaan wahai hujan

Akan ku perlihatkan pada dunia bahwa air mata ini

Air mata ini adalah air mata penuh bahagia

Kebahagiaan karena aku mempunyai sahabat-sahabatku

Yang telah memberikan kehidupan penuh cinta

Kebahagiaan yang sanggup aku lukiskan pada pelangi


Melalui cahaya mentari

Juga melalui bulan purnama

Aku kirimkan air mata bahagia ini untuk sahabatku




(Untuk semua sahabat jihan)

Never to Look at The Past

He saw me without a smile

Talk to me when he needs to talk 

And then he went away 

Left me with one question

Why do you like that to me?
 

But I still fall in love when he is cold to me 

My friends say that it's wrong  

But I don't care
 


Now, I think that you will never love me 

Cried loudly when thinking if it's true

Ran away to the streets

Rain down gracefully

But he did not come for me
 


He asked me something 

I tried to answer it 

But my voice quivered 

And he doesn't care about it

Just say thanks when I've answered 

Why do you like that to me?
but I still fall in love when he is cold to me 


My friends say that I was wrong 

And I'm a little concerned
 


He knew about my feelings to him 

But he's still cool to meas if it never happened 

And my heart is broken 

When I know that he does not care about my feelings
 


I said to myself 'I will get someone better than him' 

And promised never to look at the past

Never to look at the past

Jumat, 01 Oktober 2010

Nick Jonas - Introducing Me

Rabu 29 September 2010

Waktu hujan turun dengan derasnya, di depan komputer saya menatap foto-foto kenangan yang  telah lalu. Foto itu bergambarkan kejadian-kejadian selama aku bersekolah di sma istiqamah bandung. Tiba-tiba lagunya miley cyrus - goodbye dan waaah, air mata langsung meleleh! apalagi pas bait lagu I remember those simple thing, I remember till I cry, but the one thing I wish that forget, the memory I wanna forget, is saying goodbye... Di situ baru sadar kalau bentar lagi kita mau pisah :((
Soalnya 3 tahun bersama-sama, udah saling kenal karakter masing-masing. Trus berpisah, Ya Allah beneran berat rasanya pisah dengan mereka. Apalagi di kelas XII ini makin dekeeeett keakrabannya (nah kan, mulai meleleh air mata).
Trus lagunya berubah jadi lagu miley cyrus - I miss you, daaaann fotonya pas foto Yulianti Andriani. Makin deras deh air mata yang keluar. Yuliiii!! kita semua kangen kamu!! kenapa tiba-tiba keluar sih?! (keterangan : Yuli pindah ketika kenaikan kelas ke kelas XII)
Belum pernah ngerasain keakraban yang benar-benar akrab selain di sma istiqamah, jelaslah! muridnya satu kelas cuma 13 orang (hah?? 13 orang? gak salah?!) Ya enggaklah! kita kan sekolah eksekutif :-p
makanya gak heran kalau kita lebih akrab secara batiniah (aduh bahasanya).
Di hari rabu 29 september itu saya ingat akan perkataan seorang guru bahasa sunda yang baru "Kalian teh sedikitan berarti pasti banyak yang cinlok ya?" (ini sudah ditranslate ke bahasa indonesia, aslinya guru itu ngomong dengan bahasa sunda)
Haha, pas rabu sore itu saya baru sadar ternyata hampir 99% anak-anak di kelas cinlok (termasuk saya sendiri? oh pasti dong!! haha). Cuma 2 orang yang tidak saya ketahui secara pasti apa mereka terkena cinlok atau tidak? (tidak akan saya beritahukan bahwa nama 2 orang itu adalah arie dan taufik hilmansyah). Ternyata bener yang guru bahasa sunda itu katakan.

sebenarnya kalau mau membicarakan tentang sma istiqamah bandung, apalagi angkatan ke-2nya (saya dan teman-teman angakatan ke-2) pasti bakalan banyak yang bisa diceritakan. Tapi berhubung judulnya Rabu 29 September 2010, hanya kejadian yang terjadi di hari itu saja yang dapat saya ceritakan :)

Please Welcome

Ok, just please welcome the new blogger (Eng Ing Eng) --> Jihan Az-Zahra Agnel
Mohon bantuannya ya, sebagai pendatang baru agak grogi juga nulis postingan pertama >,<
mudah-mudahan blog ini ke-urus dengan baik (amin Ya Allah)
salam kenal........ :)