Dewi dan Kak Surya
Kalo ngomongin hal yang begitu diingat ketika kelas X di SMA adalah kejadian yang dialami oleh teman saya Dewi (bukan nama sebenarnya) dan kakak kelas Kak Surya (bukan nama sebenarnya). Saat istirahat, seorang kakak kelas perempuan saya Teh Wulan (bukan nama sebenarnya) menghampiri saya dan memberikan jadwal kultum (kuliah tujuh menit). Saya menerima kertas jadwal itu dengan penuh rasa deg-degan. Ouh, bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya, bagi diri saya yang kala itu amat sangat pemalu harus tampil di depan umum dan memberikan materi kultum dihadapan semua siswa.
Ketika itu saya langsung memberitahukan mengenai jadwal itu kepada teman-teman saya yang lainnya. Sebenarnya saya lupa siapa yang pertama kali tampil untuk memberikan materi kultum. Namun hal yang begitu saya ingat adalah ketika giliran Dewi untuk memberikan materi kultum. Ya, saya begitu antusias ingin melihat Dewi ‘berceramah’.
Selesai sholat dzuhur yang dilanjutkan sholat sunnah 2 rakaat, saya dan teman-teman tengah siap untuk duduk manis mendengarkan materi kultum yang kala itu adalah giliran Dewi. Dengan santainya Dewi berjalan menuju mimbar. Sebetulnya dulu Dewi memang terkenal tomboy.
“Assalammualaikum wr wb” Ucap Dewi memulai kuliah tujuh menitnya.
Semua yang hadir di mushola itu kompak menjawab “Waalaikumsalam wr wb”
Namun salah seorang kakak kelas yaitu Kak Surya menjawab salam dengan nada yang terkesan cuek (dan memang pada kenyataannya begitulah gaya bicara ia). Tetapi di luar dugaan, Dewi terdiam sebentar, lalu kemudian berkata
“Maaf bisa diulangi menjawab salamnya? Saya harap menjawab salamnya tidak main-main”
Spontan seluruh yang hadir di mushola itu (termasuk saya) kaget akan ucapan Dewi barusan. Wow, gila! Murid baru sudah berani untuk mengoreksi kakak kelasnya. Ternyata tidak hanya saya saja yang terkejut. Teman-teman kakak kelas Kak Suryapun terkejut sehingga mereka tertawa terbahak-bahak.
Dari kejadian itulah ‘perserteruan’ tidak serius terjadi antara Dewi dan Kak Surya. Bahkan tidak hanya antara mereka berdua saja, saya juga teman-teman lainnyapun terkena imbasnya. Tetapi sungguh ‘perserteruan’ tersebut sangat indah untuk dikenang. Karena memang ‘perseteruan’ itu bagi saya, Dewi, dan teman-teman lainnya sebagai salah satu alternatif bagi kami untuk bisa lebih akrab dengan kakak kelas laki-laki semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar