Minggu, 03 Juni 2012

Ketika Sunyi

Bahkan ketika sunyipun
Gema suaramu mampu menembus hatiku
Dengan membawa embun dari pucuk daun teh
Yang mampu menyejukkan hatiku

Bahkan ketika sunyipun
Aroma tubuhmu mampu merobek jiwaku
Membawa larik-larik indah untukku
Yang bisa memberikan nada dalam hatiku

Apa yang membuatmu mampu merasuki jiwaku
Bahkan dalam keadaan sunyi sekalipun
Bayanganmu terus datang
Seolah mengancam diriku
Tiap detik pacuan jantungku
Kau selalu hadir
Dengan halus dan tanpa aku sadari

Tidak hanya itu
Bahkan ketika sunyi
Kau telah menjadi larik dalam sajak yang selalu aku tulis

Puisi

SENJA

Senja selalu menjadi wacana yang hangat
Silau senja berkilau dengan damai
Anginnya menggoyangkan rerumputan dengan rapi
Aku menatap awan
Ah, mengapalah bentuknya menyerupai wajahmu?
Apa kau menyadarinya?
Lukisan wajahmu di langit sana
Atau hanya aku yang dapat melihatnya?
Di langit itu wajahmu tersenyum
Jangan... kau tidah seharusnya tersenyum di langit!
Karena senyummu hanya untukku
Biarkanlah senyuman itu aku simpan dalam hatiku
Agar dapat selalu ku lihat senyummu
Meski telah terpejam mataku
Di senja yang hangat ini