KULUKIS SENJA
Kini gadis berusia 16 tahun itu duduk termenung sendirian. Angin mengipaskan rambutnya yang panjang dan hitam. Ia sendirian, tidak ada yang menemani. Kemudian orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang memenuhi janjinya. Gadis itu menatap mata orang yang sangat ia sayangi, lalu ia tersenyum manis.
***
“Aku mau melihat senja…” Celoteh seorang anak yang berusia 5 tahun.
“Tidak sekarang sayang, hari hujan”
“Biarkan saja, bukankah lebih asyik sambil hujan-hujanan?! Lagipula aku ingin menunggu ayah…” Kini anak itu meruncingkan bibirnya.
“Nanti kalau kamu sakit bagaimana?”
“Tidak apa, kalau aku sakit kan masih bisa lihat senja?” Anak itu mulai merengek.
“Tidak sayang…”
“Ayolah bunda…” Anak itu mengeluarkan jurus ampuhnya untuk merayu bunda (tersenyum sangat manis).
“Baiklah, tapi di teras saja ya dan tidak hujan-hujanan” Akhirnya bunda berhasil di rayu.
“Makasih bunda…” Anak itu memeluk bunda tersayangnya.
***
“Ka-sian gak punya ayaaaaah… ka-sian gak punya ayaaaaah…!!” Terdengar suara yang bernada mengejek dari kelas 3-1 SD An-Ni’mah.
“Ayahku setiap pulang kerja pasti bawa es krim. Kasian ya yang gak punya ayah. Hahahaha…” Ucap seorang anak perempuan yang berambut pendek.
“Kalau tamasya ke gunung, aku suka digendong sama ayah. Ibuku mana kuat menggendongku. Hahahaha…” Kali ini suara anak laki-laki bertubuh tambun.
Sedangkan dari arah meja depan, seorang gadis berambut panjang dan berwarna hitam menutupi matanya yang basah karena air mata. Tidak hanya itu, lambungnya pun terasa seperti menusuk-nusuk namun tidak ia beritahukan hal ini pada bundanya.
***
“Fahira, makan dulu…” Suara lembut itu memanggil anaknya yang berusia 9 tahun.
“Gaaaak, Fahira mau langsung tidur aja…” Jawab gadis kecil dari dalam kamarnya.
“Jangan gitu dong, bunda sudah masak tempe bacem kesukaan kamu…” Suara itu masih bernada lembut dan menenangkan.
“Iya bunda, nanti…” Fahira menyahut dengan nada penuh kekesalan.
Bunda sangat mengerti akan tingkah laku anak semata wayangnya. Bagaimana tidak, selama 4 tahun terakhir ia selalu berdua dengan gadis kecilnya itu. Tidak seperti biasanya Fahira bertingkah seperti ini. Atas inisiatif seorang ibu, bunda melangkahkan kakinya menuju kamar Fahira. Ia membuka pelan pintu kamar anaknya itu, dan didapatinya Fahira tengah meringkuk di atas kasur dengan memegang perutnya.
“Fahira kamu kenapa nak?” Suara bunda tetap lembut.
“Bunda kenapa masuk kamar aku? Aku kan lagi ingin sendiri!!”
“Kamu kenapa sayang? Perutmu sakit? Bagian mananya? Sini bunda periksa, seperti apa sakitnya? Kenapa kamu menangis Fahira??”
“Bunda, gak usah tau! Aku gak mau buat bunda repot! Aku udah bisa sendiri!!” Suara Fahira meninggi dan tetap menahan rasa sakit.
“Fahira!! Sejak kapan kamu berani berbicara dengan nada tinggi kepada bunda?!” Tidak ada lagi nada kelembutan itu, kini telah diganti dengan nada penuh kecemasan dan kekesalan.
Melihat bundanya yang sudah marah, Fahira terdiam. Kemudian anak gadis berusia 9 tahun itu menangis dengan masih memegang perutnya. Sadar akan kesalahannya, bunda langsung memeluk Fahira. Ibu dan anak itu bisu akan keharuan.
Setelah semuanya tenang, Fahira mulai menceritakan masalahnya. Semua masalah yang ia pendam selama ini. Semua kekesalan yang ia tekan selama ini. Semua perasaan sakit pada lambungnya yang sering kali ia rasakan. Semua kasih sayang yang belum sepenuhnya ia curahkan pada bundanya.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, bunda mengerti akan tekanan batin yang dialami oleh gadis kecilnya ini. Tanpa perlu panjang lebar Fahira menjelaskan, bunda sudah sangat mengerti semuanya. Kini Fahira tenggelam dalam dekapan kasih sayang bunda. Sedangkan bunda, mengingat kembali tragedi yang sempat mengguncang jiwa anaknya. Ya, saat senja itu.
***
Saat senja itu, hujan turun. Dari sebuah rumah yang penuh keharmonisan, keluarlah seorang ibu dengan gadis kecilnya yang masih berusia 5 tahun. Dibalut dengan sweater hijau rajutan ibunya, anak kecil itu duduk manis sembari menatap senja yang saat itu berwarna orange keemasan. Sungguh indah. Matanya yang besar tidak berhenti menatap awan yang luar biasa menakjubkan.
Hujan sudah berhenti. Anak kecil berusia 5 tahun ini masih terus menatap senja. Seakan ada sesuatu yang akan senja berikan, ia masih setia menatap senja. Hingga senja yang orange keemasan berganti warna menjadi biru dongker atau bahkan hitam. Saat itulah, ayahnya akan pulang.
Suara derum mobil terdengar dari arah luar. Gadis kecil mengira itu adalah suara mobil ayahnya. Namun ternyata, mobil itu tetap melaju walaupun telah melewati rumahnya. Bukan, itu bukan mobil ayahnya. 3 menit berlalu. Lagi-lagi terdengar suara derum mobil, dan gadis berusia 5 tahun berharap bahwa itu adalah mobil ayahnya. Namun sayang, mobil itu adalah mobil tetangganya.
Satu jam telah ia lewati dan masih setia menunggu ayahnya. Bunda pun masih menemani gadis kecilnya menuggu kehadiran ayah. Entah mengapa degupan jantung bunda tidak seperti biasanya. Bunda sempat cemas dan sangat mengkhawatirkan ayah, namun cepat-cepat ia tepiskan perasaan cemasnya.
Tunggu sebentar lagi, ayah pasti datang. Ah, mungkin ayah sedang membeli makan malam untuk bunda dan Fahira. Batin bunda dalam hati untuk menenangkan dirinya.
Terdengar suara derum mobil menuju rumah gadis kecil dan bundanya. Mobil itu berhenti di depan pagar. Oh, sungguh senang Fahira mengira ayahnya telah datang. Namun tidak dengan bunda, degupan jantung itu tidak juga berhenti. Mereka berdua berjalan menuju pagar rumah dan mulai membukakan pagar. Degupan jantung bunda semakin kencang berlari.
Tidak, itu bukan mobil ayah. Tapi, siapa orang yang menyetir mobil itu? Orang itu berbicara dengan bunda. Ke mana ayah? Apa ayah lembur?. Fahira banyak bertanya dalam hatinya.
Setelah berbicara dengan orang itu, bunda langsung menggendong Fahira. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa. Fahira betul-betul tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi? Oh, akankah senja keesokan harinya tetap menyenangkan?
Mobil itu meluncur dengan cepat. Bahkan hampir saja menabrak sepeda motor. Mobil itu tetap meluncur. Menepis kesunyian malam. Fahira menatap bunda. Dari kegelapan, Fahira tahu bahwa bunda menangis. Mobil akhirnya berhenti. Fahira yang masih digendong oleh bunda keluar dari mobil dan matanya terbelalak kala membaca tulisan di atas gedung putih. RUMAH SAKIT. Dengan cepat bunda berlari sembari masih menggendong Fahira. Fahira dapat merasakan degupan jantung bunda yang juga ikut berlari.
Mereka hampir sampai pada tempat tujuan. Fahira menatap banyak sekali saudara-saudaranya yang datang dan mereka semua menangis. Fahira kemudian dititipkan pada tantenya, adik ayah Fahira. Tantenya juga ikut menangis hingga matanya bengkak. Fahira yang biasanya cerewet, akhirnya hanya bisa terdiam membisu. Matanya kemudian membaca tulisan yang tertera pada sebuah pintu. KAMAR MAYAT.
***
Gadis itu kini tumbuh berusia 14 tahun. Ia tumbuh dengan kasih sayang bundanya. Ia tidak pernah merasa kehilangan kasih sayang walaupun ayahnya telah tiada karena kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa ayahnya dalam hitungan detik. Meskipun begitu, setiap malam gadis itu selalu berdoa kepada Allah SWT agar ayahnya ditempatkan bersama dengan orang-orang yang beriman.
Fahira tetap tegar akan kesedihannya. Bunda selalu ada untuk Fahira. Begitupun sebaliknya, Fahira selalu ada untuk bunda. Bunda yang berprofesi sebagai seorang pelukis lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Nama bunda semakin terkenal karena lukisannya yang berjudul ‘kabut malam’. Lukisan itu menceritakan kegelisahan bunda kala ayah meninggal.
Sedangkan Fahira kini lebih sering membuat puisi dan juga cerpen. Ia aktif di banyak organisasi. Mulai dari OSIS, Paskibraka, mading, hingga teater. Ia memang sengaja menyibukkan dirinya. Agar kenangan akan ayahnya tidak selalu mengikat kesedihan.
***
Di bawah langit yang senja, kini gadis berusia 16 tahun itu duduk termenung sendirian. Angin mengipaskan rambutnya yang panjang dan hitam. Ia sendirian tidak ada yang menemani. Kemudian orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang memenuhi janji untuk mentraktirnya. Gadis itu menatap mata orang yang sangat ia sayangi, lalu ia tersenyum manis.
“Bagaimana dengan peluncuran lukisan terbaru punya bunda? Sukses? Banyak yang tertarik tidak?” Tanya Fahira kepada bundanya.
“Ya, seperti yang dapat kamu lihat dari raut muka bunda…” Bunda tersenyum manis kemudian mengambil tempat di samping anak gadisnya. Mereka berdua terdiam. Sunyi. Keadaan di sekitar taman sangat menyejukkan. Apalagi saat senja.
“Tidak terasa ya bunda” Akhirnya Fahira angkat bicara. Bunda hanya terdiam karena mengerti ke mana arah pembicaraan Fahira.
“Waktu itu senja seperti ini juga…” Fahira menggantungkan kalimatnya.
“Sudah. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Itu semua takdir Yang Maha Kuasa” Bunda menyela ucapan Fahira. Mereka berdua tersenyum. Lalu Fahira menundukkan kepalanya.
Kesunyian menguasai keadaan di sekitar taman.
“Ah, senjanya masih panjang kan? Akan bunda lukis senja untuk anak gadis bunda yang cantik ini” Bunda mengedipkan mata ke arah Fahira.
“Ah, bunda nih mujinya berlebihan…” Pipi Fahira merah merona akan ucapan bundanya. Hingga tampaklah betul rona wajahnya yang begitu jelita.
Sungguh anakku, akan kulukis senja untukmu dan juga ayahmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar