Rabu, 25 April 2012

PUISI


Pelangi dan Pohon

Sampaikan masalahku kepada Tuhan
Apa mampu aku menembus tiap detiknya
Menebas tiap inci duri-duri kehidupan
Menggenggam seluruh kegelapan jalan
Berjalan dengan tegap dan kepala merunduk
Barangkali kan ku temukan cahaya itu di bawah
Atau kutegakkan kepala dan menutup mataku
Menantang silaunya mentari yang membakar ubun-ubun
Angin itu membelai pelan pelipis mataku
Membuatku gelisah untuk lebih menantang mentari
Jalan panjang di depanku bergelombang, penuh kerikil
Sudah kuketahui sebelumnya
Bahkan jauh sebelum sadar aku membuka kedua mataku
Tapi di ujung jalan itu aku melihat pelangi dan pohon
Janji kebahagiaan dan kenyamanan itu menggelitik perasaanku
Aku tidak peduli jika kakiku harus berdarah-darah
Bahkan mungkin bernanah saat berjalan menuju pelangi dan pohon
Ah, bisa jadi dahagaku terbakar
Mentari hanya satu jengkal dari ubun-ubunku
Tidak ada awan untuk melindungi jalanku
Biarlah, aku sanggup dan yakin
Setelah mencapai pelangi dan pohon itu
Mentari akan bersembunyi dari balik awan
Ia muncul sekedar untuk mencerahkan warna pelangi
Memberi warna yang hijau segar pada dedaunan di pohon
Panas, jalan ini telah kuinjak dengan kedua kakiku

(Selasa, 24 April 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar