Pelangi dan Pohon
Sampaikan
masalahku kepada Tuhan
Apa
mampu aku menembus tiap detiknya
Menebas
tiap inci duri-duri kehidupan
Menggenggam
seluruh kegelapan jalan
Berjalan
dengan tegap dan kepala merunduk
Barangkali
kan ku temukan cahaya itu di bawah
Atau
kutegakkan kepala dan menutup mataku
Menantang
silaunya mentari yang membakar ubun-ubun
Angin
itu membelai pelan pelipis mataku
Membuatku
gelisah untuk lebih menantang mentari
Jalan
panjang di depanku bergelombang, penuh kerikil
Sudah
kuketahui sebelumnya
Bahkan
jauh sebelum sadar aku membuka kedua mataku
Tapi
di ujung jalan itu aku melihat pelangi dan pohon
Janji
kebahagiaan dan kenyamanan itu menggelitik perasaanku
Aku
tidak peduli jika kakiku harus berdarah-darah
Bahkan
mungkin bernanah saat berjalan menuju pelangi dan pohon
Ah,
bisa jadi dahagaku terbakar
Mentari
hanya satu jengkal dari ubun-ubunku
Tidak
ada awan untuk melindungi jalanku
Biarlah,
aku sanggup dan yakin
Setelah
mencapai pelangi dan pohon itu
Mentari
akan bersembunyi dari balik awan
Ia
muncul sekedar untuk mencerahkan warna pelangi
Memberi
warna yang hijau segar pada dedaunan di pohon
Panas,
jalan ini telah kuinjak dengan kedua kakiku
(Selasa, 24 April 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar